Austronesia/Malayo-Polynesia

Perahu Balanghai

Sekali lagi ini adalah bukti bahwa Bangsa-Bangsa rumpun Austronesia/Malayo-Polynesia,mereka memang pelaut-pelaut yang ulung,tak terkecuali saudara-saudara serumpun kita Pilipino atau Bangsa Maharlika. Mereka pernah melakukan pelayaran dari Butuan,Mindanao untuk melakukan perdagangan dengan Cina pada masa Dinasti Sung (960-1127 Masehi).

Pelayaran di antara Negeri Cina dan Negeri yang kaya dengan rempah-rempah,yaitu kepulauan Maluku,dilakukan pula dengan mempergunakan Perahu Balanghai.

Ketangguhan Perahu Balanghai ini bisa disejajarkan dengan Perahu Sandeq,Jukung dan Kapal Phinisi serta Lancang Kuning dan beragam perahu lainnya dari penjuru nusantara/kepulauan melayu,yang kebanyakan adalah Perahu Cadik.

Selayang Pandang Perahu Balanghai

Di masa lampau orang-orang Pilipina adalah sebuah masyarakat yang tinggal di perkampungan-perkampungan (Barangay) di tepi pantai dan sungai,dan mereka dipimpin oleh seorang Datu,kendaraan air yang sangat penting bagi mereka adalah sebuah Perahu,Perahu adalah kendaraan air yang mereka pergunakan untuk Berdagang,Saling Berhubungan dan bahkan untuk Membajak.

Balanghai atau disebut pula Balangay adalah Perahu Khas dari Daerah Butuan,Mindanao,perahu ini dibuat dari bahan dasar yaitu Papan yang disambung-sambung tanpa mempergunakan paku.

Perahu Balanghai hanya terdapat di Pilipina dan biasanya untuk membuat sebuah Perahu Balanghai,tidak diperlukan contoh atau semacam cetak biru,tapi melalui ingatan secara turun-temurun dari satu angkatan ke angkatan lainnya (ada kemiripan dengan Suku Bangsa Asmat dari Papua yang melestarikan kenangan atau ingatan dari masa lampau,secara turun-temurun dengan mempergunakan seni ukir sebagai media),pada dasarnya Perahu Balanghai adalah sebuah sebuah perahu yang mempunyai panjang sekitar 15 meter dan lebarnya 3 atau 4 meter,Layar untuk Perahu Balanghai mempergunakan lapisan dari serat Nipa,dan perahu ini bisa menampung 60 orang atau 90 orang,dan keutamaan Perahu Balanghai ini memberikan bukti bahwa di masa lampau Butuan,Mindanao mempunyai peran penting dalam perdagangan dan budaya maritim atau kebaharian benar-benar mengakar di Butuan,Mindanao.


GambarGambarGambarGambar

Standar

Aku sengaja memilih nama itu untuk dipakai sebagai nama di blogku ini (namaku sebenarnya Muhammad Mirza),karena Perahu Cadik,adalah perahu asli nenek moyang kita yang adalah Bangsa rumpun Austronesia/Malayo-Polynesia,ada perdebatan tentang pendapat ini dari beberapa orang,yang meragukan bahwa nenek moyang kita seorang pelaut yang ulung dan mereka sejak lama mempergunakan benda-benda langit sebagai petunjuk,karena itu di dalam Bahasa-Bahasa Austronesia/Malayo-Polynesia,bisa kita temui kata-kata atau nama-nama benda langit,yang mirip dalam penyebutannya dan pengertiannya,yaitu Bintang Bulan dan Langit dalam beberapa kata yang berasal dari  Bahasa-Bahasa rumpun Austronesia/Malayo-Polynesia,Bintang Bulan dan Langit disebut Bintuin (Tagalog),Lintang (Jawa),Wulan (Dusun),Wulan (Jawa),Buwan (Tagalog) dan Langit (Indonesia,Malaysia,Pilipino-Tagalog Maori).

Yang menarik ternyata kata Perahu atau mirip dalam penyebutan dan pengertian terdapat pula dalam Bahasa Sumeria dalam bahasa ini Perahu disebut sebagai Nibiru.

Perahu Cadik adalah sebuah Perahu yang Perkasa  kemampuannya untuk mengarungi lautan sudah tidak diragukan lagi,dan di masa lampau Bangsa-Bangsa rumpun Austronesia/Malayo-Polynesia mempergunakannya untuk mengarungi lautan sampai ke Madagaskar dan dipergunakan pula untuk mengarungi lautan samudera nan luas di seluruh Pasifik Selatan.

Aku berharap bisa seperti sebuah Perahu Cadik,di tengah Ombak Lautan yang Menjulang dan Buas. Baca lebih lanjut

Aku, Austronesia/Malayo-Polynesia

Perahu Cadik

Gambar