Jokowi

Siapa Yang Menabur Angin Akan Menuai Badai (Banjir)

Permalink gambar yang terpasang

Kekonyolan Tim Kampanye Gubernur yang Bak Nabi ini adalah mereka tidak membuat Perbandingan dengan Bang Ali Sadikin. Padahal Orang Sekaliber Bang Ali Sadikin perlu Waktu sampai sekitar satu tahun lebih untuk membuat Perubahan di Jakarta atau seperti kata-kata Tim Kampanye Jokowi, Jakarta Baru atau Jakarta Bebas Banjir Dalam 100 Hari. Kini Jakarta Dilanda Banjir Besar sejak 13 Januari 2014 dan Beliau sudah Satu Tahun Lebih Memimpin Jakarta (Sejak Desember 2012),ternyata Jakarta Tetap Banjir.

Kemudian Tim Kampanye Jokowi ini Menjadikan Pencalonan Pak Jokowi sebagai Gubernur Jakarta sebagai sebuah Batu Loncatan untuk Meraih Jabatan sebagai Presiden RI dan ternyata ada yang Mendukung Beliau pula dan Menjadi Pembebek 🙂

Tidak Terkecual mereka yang adalah Pelaku Perbuatan Umatnya Nabi Luth,Mereka pun Memberikan Dukungan Untuk Gubernur yang Bak seorang Nabi ini. Pertanyaannya : Apa Kita Mau Dipimpin Oleh Seorang Pemimpin yang Mengundang Azab Allah?

Bill Clinton yang adalah salah satu Presiden Terbaik Amerika Serikat,Beliau memerlukan Waktu beberapa Tahun untuk Menjalankan Jabatan sebagai Seorang Senator Dari Arkansas dan Pak Habibie memerlukan Waktu beberapa Tahun (sekitar 20 tahun lebih) untuk kemudian Beliau Terpilih sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998,Padahal Beliau salah satu Orang Jenius di Dunia dan Mempunyai Hak Paten untuk 99 Penemuan di Bidang Teknologi. Tapi Mengapa Untuk Pak Jokowi hanya Satu Tahun? Dan Beliau belum Menyelesaikan Jabatannya Selama 5 Tahun. Bagaimana Jakarta Bebas Banjir jika Gubernurnya,pikirannya  terpusat Untuk Pemilihan Presiden RI atau PEMILU (Pemilihan Umum) 2014 atau agar bisa Menaikan Tingkat Elektablitas Dirinya (Tingkat atau Jumlah orang yang Mendukungnya sebagai Calon Presiden RI),semua itu akhirnya Bermuara pada Pencitraan dan Tugasnya sebagai Seorang Gubernur Menjadi Terabaikan.

Berbeda dengan Gubernur Sulawesi Utara,meskipun Keadaan di Manado dan Sekitarnya lebih parah akibat Banjir dan Korban yang Tewas lebih Banyak,Beliau tidak sampai Dirundung seperti Pak Jokowi,semua itu karena Beliau tidak Menjanjikan Hal yang Muluk-Muluk pada saat Beliau Kampanye.

Jadi seperti kata Peribahasa atau Pepatah Siapa Yang Menabur Angin Akan Menuai Badai (Banjir).

Standar
Betawi

Curahan Hati Babeh Ridwan Saidi

Aku Mengenal Babeh Ridwan Saidi melalui Buku-Buku yang Beliau tulis,yaitu “Data dan Fakta Yahudi Di Indonesia” dan “Profil Orang Betawi”,dan Babeh Ridwan Saidi adalah Corong Rakyat Betawi juga. Tentang Rakyat Betawi atau Masyarakat Betawi,mereka adalah sebuah Masyarakat Melayu Islam yang sudah berabad-abad bermukim di Daerah Jakarta dan Sekitarnya (termasuk Tangerang dan Bekasi),salah satu Ciri Khas Mereka adalah sifat Egaliter dan Terbuka,karena itulah Mereka tidak pernah mempunyai seorang Raja atau Sultan (Mungkin satu-satunya Kaum atau Puak yang terdapat di Nusantara atau Kepulauan Melayu yang tidak pernah Mempunyai sebuah Kerajaan). Sayangnya Semangat Membangun Kota Jakarta adalah Kerakusan dan Kesombongan,karena itulah mereka semakin lama semakin Terpinggirkan dan Semua Itu adalah “Api Dalam Sekam” juga,tapi itulah Semangat yang Paling Menonjol dalam Membangun Negeri ini,bisa aku sebutkan dengan beberapa kata Keculasan,Ketamakan,Kebohongan dan Kebiadaban,Kerakusan,Ken Aroknisme serta Kesombongan,Kecurangan.

Selama aku tinggal Jakarta sekitar 20 tahun lebih dan aku mempunyai beberapa sahabat dan teman yang adalah Orang Betawi,Pendapatku tentang Mereka adalah Positif,karena Pada Dasarnya Mereka adalah orang-orang yang Terbuka dan Ramah,salah satu sifat mereka yang aku suka adalah mereka tidak suka Berbasa-Basi atau Bicara Manis di Depan,tapi Kemudian Menikam atau Menusuk dari Belakang,mereka lebih suka bicara “Nyablak” atau Apa Adanya untuk beberapa orang itu Kurang Sopan,tapi aku bisa Mengerti karena Kebanyakan Orang Sumatera sering Begitu dan aku adalah Orang Sumatera juga 🙂

Tentang Pernyataan Babeh Ridwan Saidi yang Menurut beberapa orang Cenderung Menyerempet Persoalan SARA (Suku,Agama dan Ras serta Antar Golongan) atau bisa disebut juga sebagai Masalah Perkauman,Intisari Pendapat atau Pernyataan Babeh Ridwan Saidi tadi malam di TV One (tepatnya di Acara ILC-Indonesia Lawer Club-Edisi Rabu 16 Januari 2014) adalah Pendatang-Pendatanglah Pemicu atau Penyebab Banjir di Jakarta,Kata-Kata yang lebih Tepat adalah Urbanisasi Adalah Penyebab Banjir. Urbanisasi atau Perpindahan Penduduk Dari Desa Ke Kota,semua itu menyebabkan Maraknya Pembagunan Pemukiman dan Pusat Perbelanjaan,khususnya Apartemen-Apartemen dan Mal-Mal,semua itu telah Merampas dan Memperkosa Daerah-Daerah Resapan Air dan Ruang-Ruang Terbuka Hijau,bagi Pengembang-Pengembang atau Pengusaha-Pengusaha Real Estate semua itu adalah Peluang atau seperti kata sebuah Pepatah “Pucuk DiCinta Ulam Tiba”,dan bagi Kebanyakan Penduduk Jakarta itu adalah sebuah Musibah.

Jika kita ingin bicara lebih jauh lagi Pemicu Semua Ini,adalah Pemusatan Kekuasaan Baik Ekonomi Maupun Politik Di Jakarta dan Pulau Jawa pada Khususnya.

Negeri Ini Luas dan Hampir Seluas Eropa,tapi mengapa hampir semuanya dipusatkan di Jakarta dan Pulau Jawa? Di sisi lain Pulau-Pulau di Seberang Jawa hanya sebagai Pelengkap Penderita saja dalam Bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) atau Hanya Diperlukan Kekayaan Alamnya (khususnya untuk Membayar Hutang Luar Negeri) dan Tanahnya (untuk Transmigran,khususnya Transmigran Asal Pulau Jawa).

Aku sebagai Pendatang Asal Sumatera bisa mengerti dan berpikir jernih pada Pernyataan Babeh Ridwan Saidi dan pada dasarnya Pernyataan Babeh Ridwan Saidi bukan hanya sebuah Riak di Samudera nan Luas,tapi bisa Menjadi sebuah Ombak nan Dahsyat juga atau Ombak Tsunami,karena Pernyataan Beliau adalah sebuah Pernyataan yang Jujur Tentang Keadaan Negeri ini yang Sebenarnya.

Tabik untuk Babeh Ridwan Saidi,dan aku pun Berharap Babeh Ridwan Saidi bisa Melihat Lebih Jernih Beragam Masalah Di Negeri ini,dan bukan hanya di Sekitar Jakarta,yang Terjadi di Jakarta dan Sekitarnya hanyalah Puncak Gunung Es dari Beragam Kekacauan Di Negeri ini =)

Standar